Karhutla Sumbagsel Meluas: Udara Palembang Berstatus Merah, Jambi dan Bengkulu Dikepung Asap

Karhutla meluas di Sumbagsel hingga menurunkan mutu udara Palembang ke level sangat tidak sehat dan memicu kabut asap kiriman ke Bengkulu, Senin (19/10/2026).

Oleh Admin ·

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di bagian selatan Pulau Sumatera kian meluas. Bencana musiman ini tidak hanya melahap ratusan hektare area gambut dan kawasan konservasi, tetapi juga memicu penurunan drastis kualitas udara di Kota Palembang hingga status sangat tidak sehat serta melayangkan kabut asap kiriman ke Provinsi Bengkulu.

Kualitas Udara Palembang Sangat Tidak Sehat

Di Sumatera Selatan, konsentrasi kabut asap kian pekat terasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel mencatat lonjakan partikulat halus PM2.5 di Stasiun Musi 2 hingga menyentuh level merah atau sangat tidak sehat pada Senin (19/10/2026).

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis memaparkan bahwa mutu udara sempat membaik pada pagi hari, namun kembali memburuk drastis pada siang hari dengan angka PM2.5 mencapai 215,6 µg/m³ pada pukul 12.00 WIB dan 197,3 µg/m³ pada pukul 13.00 WIB. Kondisi ini dipicu oleh kebakaran aktif di kawasan Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya yang terus mengirimkan asap ke arah ibu kota provinsi.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan Ferdian Krisnanto mengungkapkan, operasi pemadaman di Sumsel masih berlangsung di tujuh wilayah, yakni Muara Enim, OKI, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Banyuasin, PALI, dan Palembang. Dari seluruh target penanganan, hanya titik kebakaran di Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Sematang Borang, Palembang yang dilaporkan tuntas padam.

Menurut Ferdian, luas lahan yang terbakar di Sumsel berkisar 200 hingga 300 hektare setiap hari. Tim di lapangan menghadapi rintangan berat akibat keterbatasan air. Sumber air terdekat bahkan berjarak hingga 500 meter dari pusat kebakaran.

Kawasan Konservasi di Jambi dan Lampung Membara

Kondisi serupa terjadi di Jambi. Sebanyak tujuh titik karhutla dilaporkan masih membara di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, mencakup kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Orang Kayo Hitam serta Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS). Puluhan petugas Manggala Agni lintas daerah, termasuk bantuan dari Pekanbaru dan Dumai, dikerahkan untuk mengatasi api.

Komandan Regu Manggala Agni Roman Dani menyebutkan timnya harus menembus hutan lebat dan vegetasi rapat di Desa Labuhan Pering sembari mewaspadai ancaman pohon tumbang. Kendala minimnya sumber air di lahan gambut memaksa petugas melakukan penyekatan menggunakan alat berat agar kobaran api tidak kian menjalar.

Berdasarkan data Satgas Karhutla Provinsi Jambi per 17 Oktober 2026, total area terbakar di provinsi itu telah mencapai 4.813,56 hektare. Kabupaten Batang Hari mencatatkan dampak terluas dengan luasan mencapai 1.376 hektare, disusul Sarolangun seluas 958 hektare.

Sementara itu, kebakaran di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, belum sepenuhnya padam meski telah memasuki hari ke-24 sejak akhir September. Sekitar 30 hektare lahan terdeteksi masih mengeluarkan asap di sejumlah titik pantauan.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi mengonfirmasi bahwa operasi modifikasi cuaca (OMC) di Lampung telah dihentikan per 18 Oktober 2026 karena ketiadaan bibit awan potensial. Pemadaman kini dipusatkan lewat satgas darat yang diperkuat penambahan 350 personel, serta operasi pengeboman air (water bombing) dari udara.

Asap Kiriman ke Bengkulu dan Penegakan Hukum

Dampak kebakaran di Jambi dan Sumsel kini merambah ke Bengkulu dalam wujud kabut asap kiriman. Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno mencatat jarak pandang mendatar di Kota Bengkulu masih berada pada batas 6 hingga 8 kilometer.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Provinsi Bengkulu Khristian Hermansyah mengimbau warga rentan, khususnya anak-anak dan lansia, untuk mengenakan masker apabila kepekatan asap meningkat. Pemerintah daerah setempat juga memperingatkan masyarakat agar tidak memperparah kondisi dengan membakar sampah atau membersihkan pekarangan menggunakan api selama musim kemarau.

Di tengah upaya pemadaman regional, tindakan penegakan hukum dilakukan kepolisian di Kabupaten Empat Lawang, Sumsel. Polres Empat Lawang menetapkan dua pria berinisial HT (52) dan RR (31) sebagai tersangka pembakaran lahan dekat RSUD Empat Lawang, Desa Seguring, Kecamatan Tebing Tinggi.

Kapolres Empat Lawang AKBP Abd Aziz Septiadi menjelaskan, kedua pelaku tertangkap tangan saat api membesar di lahan yang rencananya hendak mereka jadikan kebun kopi. Dari lokasi perkara, aparat menyita pompa semprot, bilah parang, dan korek api sebagai barang bukti tindak pidana lingkungan hidup.

Sumber: detik Sumbagsel

Daerah: Pekanbaru · Dumai